Minggu, 03 Januari 2016

Orang Tua Harus Suka Bercermin







Kejadian indah ini dilakukan keluarga kecil. Ada ayah, ibu, dan dua anak. Setiap hari tercipta suasana dialogis yang nyaman dan damai. Tak ada perasaan tertekan apalagi kekerasan.

Si bapak suka mengumpulkan anaknya dan tanpa malu berkata, “ Anakku....tolong bapak diberi nasehat. Apakah sikap bapak selama ini bagus menurut kalian atau ada hal yang perlu diluruskan. Kalau memang baik alhamdulillah, kalau tidak, tolong bapak diberi masukan.”

Terjadilah dialog indah antara bapak, anak, dan istrinya. Sang bapak ikhlas dikoreksi oleh anak-anaknya. Masukan demi masukan mereka sampaikan tanpa ada perasaan kena marah ayahnya.

Sebaliknya, bapaknya juga berterima kasih atas nasehat dan masukan dari anaknya. Bahkan tanpa marasa jatuh wibawanya saat si bapak meminta maaf kepada anak dan istrinya. “Maafkan saya kalau selama ini banyak salah ya Nak.”

Kebiasaan bapak suka bercermin diri seperti ini perlu dilakukan oleh  siapapun agar mengetahui bagaimana potret dirinya yang sesungguhnya. Insya Allah anak dan istri menjadi bersimpati, menaruh hormat dan kagum kepada ayah atau suami yang demikian.

Beda dengan pengakuan seorang anak di kota lain. Ibunya setiap kali bertemu anak-anaknya selalu meminta maaf penuh ketulusan. Alasannya, dia belum bisa menjadi ibu yang baik. Walau sebenarnya, anaknya yang berjumlah 15 orang itu, semuanya jadi ‘orang’. Ada yang jadi guru besar, budayawan, dan aktifis sosial lain.
Itulah contoh kerendahan hati orang tua kepada anak-anaknya.  Sikap ini semakin meninggikan derajat orang tua di mata anak-anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar