Kejadian indah ini dilakukan keluarga kecil. Ada ayah, ibu, dan dua anak. Setiap hari tercipta suasana dialogis yang nyaman dan damai. Tak ada perasaan tertekan apalagi kekerasan.
Si bapak suka mengumpulkan
anaknya dan tanpa malu berkata, “ Anakku....tolong bapak diberi nasehat. Apakah
sikap bapak selama ini bagus menurut kalian atau ada hal yang perlu diluruskan.
Kalau memang baik alhamdulillah, kalau tidak, tolong bapak diberi masukan.”
Terjadilah dialog indah antara
bapak, anak, dan istrinya. Sang bapak ikhlas dikoreksi oleh anak-anaknya.
Masukan demi masukan mereka sampaikan tanpa ada perasaan kena marah ayahnya.
Sebaliknya, bapaknya juga berterima
kasih atas nasehat dan masukan dari anaknya. Bahkan tanpa marasa jatuh wibawanya
saat si bapak meminta maaf kepada anak dan istrinya. “Maafkan saya kalau selama
ini banyak salah ya Nak.”
Kebiasaan bapak suka bercermin
diri seperti ini perlu dilakukan oleh
siapapun agar mengetahui bagaimana potret dirinya yang sesungguhnya.
Insya Allah anak dan istri menjadi bersimpati, menaruh hormat dan kagum kepada
ayah atau suami yang demikian.
Beda dengan pengakuan seorang
anak di kota lain. Ibunya setiap kali bertemu anak-anaknya selalu meminta maaf
penuh ketulusan. Alasannya, dia belum bisa menjadi ibu yang baik. Walau sebenarnya,
anaknya yang berjumlah 15 orang itu, semuanya jadi ‘orang’. Ada yang jadi guru
besar, budayawan, dan aktifis sosial lain.
Itulah contoh kerendahan hati
orang tua kepada anak-anaknya. Sikap ini
semakin meninggikan derajat orang tua di mata anak-anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar